Jangan Mudah Mengaku Kejawen Jika Belum Memahami Maknanya
Banyak orang mengaku kejawen, tetapi tidak memahami makna sejatinya. Tulisan ini mengulas wejangan tentang perbedaan budaya Jawa dan agama agar masyarakat tidak salah jalan dalam memahami kejawen.
SOSIAL & BUDAYAJUDUL BERITASPIRITUAL
M.A Prabowo
3/8/20263 min read


Saudara-saudaraku sekalian, akhir-akhir ini saya sering mendengar banyak orang dengan mudah mengatakan bahwa dirinya adalah orang kejawen. Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan, bahkan terkadang dengan rasa bangga, seolah-olah kejawen adalah sebuah identitas yang cukup disebutkan tanpa perlu dipahami lebih dalam. Namun ketika seseorang diajak berbicara lebih jauh tentang apa sebenarnya makna kejawen itu, dari mana asal nilai-nilainya, dan bagaimana laku hidup yang seharusnya dijalankan oleh orang yang memahami kejawen, tidak sedikit yang akhirnya justru kebingungan. Ada yang menjawab dengan cerita yang tidak jelas asalnya, ada yang mencampuradukkan berbagai tradisi tanpa mengetahui makna sebenarnya, bahkan ada pula yang menjadikan hal-hal yang sebenarnya hanya tradisi budaya seolah-olah merupakan ajaran agama. Di sinilah saya melihat bahwa banyak orang berjalan di jalan yang kabur arahnya, bukan karena mereka berniat salah, tetapi karena mereka tidak memahami dasar dari apa yang mereka yakini.
Perlu kita pahami bersama bahwa kejawen pada dasarnya bukanlah agama yang berdiri sendiri sebagaimana agama-agama yang memiliki kitab suci dan sistem ajaran yang jelas. Banyak kajian ilmiah tentang masyarakat Jawa telah menjelaskan hal ini. Antropolog budaya Koentjaraningrat dalam berbagai penelitiannya tentang kebudayaan Jawa menjelaskan bahwa kejawen merupakan bagian dari sistem nilai dan pandangan hidup masyarakat Jawa yang berkembang dari pengalaman sejarah yang panjang. Demikian pula Clifford Geertz dalam penelitiannya mengenai masyarakat Jawa menjelaskan bahwa apa yang sering disebut sebagai kejawen lebih merupakan bentuk spiritualitas budaya dan cara pandang hidup masyarakat, bukan agama formal yang menggantikan agama yang dianut oleh seseorang. Artinya, kejawen berada pada ranah kebudayaan, yaitu cara orang Jawa memandang kehidupan, menjaga harmoni, dan membentuk budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalahan yang sering terjadi sekarang adalah ketika orang tidak mampu membedakan antara agama dan budaya. Agama adalah tuntunan yang berasal dari wahyu Tuhan, yang memiliki dasar ajaran yang jelas, memiliki pedoman ibadah, serta memiliki tujuan yang tegas dalam membimbing manusia menuju kehidupan yang benar. Sedangkan budaya adalah hasil dari perjalanan panjang manusia dalam menjalani kehidupan bersama, yang melahirkan nilai-nilai kebijaksanaan, tata krama, etika, dan cara hidup yang dianggap baik oleh suatu masyarakat. Budaya dapat memperkaya kehidupan manusia, tetapi budaya bukanlah pengganti agama. Ketika dua hal ini dicampuradukkan tanpa pemahaman yang benar, maka yang terjadi adalah kebingungan dalam menjalani kehidupan, karena manusia tidak lagi memiliki batas yang jelas antara mana yang merupakan tuntunan agama dan mana yang merupakan tradisi budaya.
Padahal jika kita mau belajar dengan jernih, para leluhur Jawa sebenarnya sangat menjunjung tinggi kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam menjalani hidup. Mereka tidak pernah mengajarkan manusia untuk meninggalkan agama, tetapi justru menanamkan nilai-nilai luhur yang membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Kita mengenal berbagai ajaran seperti eling lan waspada, yaitu selalu ingat kepada Tuhan dan selalu berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan. Kita juga mengenal nilai tepa selira, yaitu kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, agar manusia tidak hidup dengan ego yang berlebihan. Ada pula ajaran andhap asor, yaitu kerendahan hati yang membuat seseorang tidak mudah merasa paling benar atau paling tinggi di antara sesamanya. Semua nilai itu tidak pernah dimaksudkan sebagai pengganti agama, melainkan sebagai cara agar manusia memiliki budi pekerti yang baik dan mampu hidup rukun dengan sesama.
Karena itu saya ingin mengingatkan kepada siapa pun yang merasa dekat dengan tradisi Jawa: jangan sampai kita hanya mengambil bagian luarnya saja, tetapi tidak memahami makna yang ada di dalamnya. Jangan sampai kita sekadar mengikuti tradisi yang terlihat sakral, tetapi tidak memahami nilai kebijaksanaan yang sebenarnya ingin diajarkan oleh para leluhur. Sebab jika seseorang hanya mengikuti tanpa memahami, maka ia mudah sekali tersesat oleh tafsirnya sendiri. Lebih baik seseorang hidup sederhana dengan pemahaman yang jernih, daripada merasa mengetahui banyak hal tetapi sebenarnya tidak memahami dasar dari apa yang ia jalani. Kejawen yang sejati bukanlah tentang hal-hal yang penuh misteri, bukan pula tentang berbagai ritual yang tidak dimengerti maknanya, tetapi tentang bagaimana manusia membentuk dirinya menjadi pribadi yang memiliki hati yang halus, pikiran yang jernih, dan perilaku yang membawa kedamaian bagi orang lain.
Maka sebelum seseorang mengatakan bahwa dirinya adalah orang kejawen, sebaiknya ia terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya benar-benar memahami kebijaksanaan leluhur, atau saya hanya mengikuti cerita yang tidak jelas asalnya? Karena kebijaksanaan tidak lahir dari sekadar pengakuan, melainkan dari pemahaman yang mendalam dan dari laku hidup yang dijalankan dengan kesadaran. Jika manusia mampu memahami hal ini dengan jernih, maka ia tidak akan mudah mencampuradukkan antara agama dan budaya, dan ia juga tidak akan berjalan di jalan yang salah. Sebaliknya, ia akan mampu menempatkan agama sebagai tuntunan hidupnya, dan menempatkan kebijaksanaan budaya sebagai sarana untuk memperhalus budi pekerti dalam menjalani kehidupan. Dengan cara itulah manusia dapat berjalan dengan langkah yang terang, tidak tersesat oleh kesalahpahaman, dan tetap menghormati warisan leluhur tanpa kehilangan arah dalam menjalani kehidupan yang benar.
— Wejangan Guru Padepokan Indraprasta
